Semenjak ku mengenal dirimu
Hatiku seakan cair!
Bagai bongkahan es yang dulunya membatu
Seketika cair oleh cahaya matahari yang dahsyat namun sangat lembut
Hatiku seakan cair!
Bagai bongkahan es yang dulunya membatu
Seketika cair oleh cahaya matahari yang dahsyat namun sangat lembut
Setiap guratan sedih diwajahku
Kau ubah menjadi sebuah kesabaran dan keceriahan
Tangis dan duka di wajahku
Kau usap dengan lembutnya belaian tanganmu
Kau ubah menjadi sebuah kesabaran dan keceriahan
Tangis dan duka di wajahku
Kau usap dengan lembutnya belaian tanganmu
Ternyata, tanpa kusadari
Dirimu juga ikut menangis di balik usapan air mataku
Di antara tangisku kau teduhkan perasaanku
Dengan kecupan saying dikeningku
Dirimu juga ikut menangis di balik usapan air mataku
Di antara tangisku kau teduhkan perasaanku
Dengan kecupan saying dikeningku
Seakan tak ingin ku tahubahwa dirimu juga bersedih
Kau bohongi gurat wajahmu dengan senyuman
Namun, di antara peran kebohongan yang kau lakukan
Jiwamu tak ingin ikut berbohong
Sampai ku merasakan apa yang juga kau rasakan!
Kau bohongi gurat wajahmu dengan senyuman
Namun, di antara peran kebohongan yang kau lakukan
Jiwamu tak ingin ikut berbohong
Sampai ku merasakan apa yang juga kau rasakan!
Di antaa tangtisku, kau panjatkan do’a padaNya
Demi kebahagiaanku. Dan
Di antara tangisku kau selalu berikanku
Harapan baru nan lebih indah dari sebuah mimpi
Demi kebahagiaanku. Dan
Di antara tangisku kau selalu berikanku
Harapan baru nan lebih indah dari sebuah mimpi
Karya: Yani Aisyah BatuBara
No comments:
Post a Comment